Football

Gak ada Cinta Sejati di Dunia ini

Posted by

Kemarin, waktu bongkar-bongkar kamar (bongkar-bongkar, lho. Bukan beres-beres. Dan aku secara de facto adalah spesialis bongkar-tinggal), aku nemu SIM Card I*3-ku yang lawas dengan nomer Denpasar. Hore, di dalamnya masih ada beberapa SMS kenangan dari adik kelasku yang asal Jakarta, dulu waktu aku masih suka-sukaan sama dia dan lagi gencar-gencarnya pendekatan. Jaman itu, alhamdulillah, tanggapannya – setidaknya menurutku – positif. Hanya saja, sayangnya, kepositifan itu tidak sampai berlanjut ke jenjang yang lebih menjamin sebuah kepemilikan pada akhirnya.
Seperti halnya manusia biasa lainnya, aku juga pernah mengalami sebuah penolakan. Jadi, setelah melewati serangkaian strategi pendekatan, aku memutuskan untuk melakukan…apa itu istilahnya…ah, ya, sebuah penembakan. Waktu itu, setelah aku bicara, dia cuma diam. Betul-betul diam. Tidak bicara sepatah katapun. Cuma menghela nafas. Sedetik, 2 detik, 3 detik, lama-lama aku jadi nggak sabar (dasarnya aku kan memang “sedikit” berangasan). “Hei, kok diam? Ada apa? Ada yang salah?” tanyaku.
Diam. Dia cuma diam.
“Nduk, woi, kamu kenapa e? Mbok jawab. Ya atau nggak?” desakku lagi.
Dia masih diam beberapa saat sampai akhirnya menjawab, “Nggak bisa.”
“Kenapa?” Aku berusaha menyuarakan kalimatku setenang mungkin, meskipun di dalam hati sebenarnya sudah nggak karuan. Jindal, jadi juga penolakan keempat dalam hidupku, batinku.
“Pokoknya nggak bisa.”
“Oh… Boleh tahu alasannya?” tanyaku dengan menahan-nahan rasa kecewa.
Diam. Dia kembali diam.
“Hei? Halooo?” kataku.
“Nggak bisa, ya nggak bisa. Kamu seharusnya sudah tahu sendiri, kan?”
“Oh, apa karena kita ‘berbeda’?”
“Ya.”
Jadi begitulah romantika penembakanku, sodara-sodara. Kami menjalani the way of life yang berbeda. Karena itulah sekarang kami membatasi pembicaraan kami seperlunya saja. Tidak perlu ada basa-basi dan perhatian berlebih lagi di antara kami, daripada nanti jadi perkara. Lagipula sekarang sudah ada laki-laki lain yang menggantikan tugas-tugasku jaman dulu itu.
Kalau ditanya, apakah aku masih suka sama dia, jawabannya adalah masih. Sama halnya dengan kalau aku ditanya, apakah aku masih cinta dengan mantanku. Jawabannya juga masih. Aku masih mencintai mereka-mereka yang pernah jadi pacarku.
Kok bisa, lalu bagaimana dengan pacarmu yang sekarang, Satrianto? Tentu. Tentu aku mencintainya. Dalam kaitannya dengan paragraf sebelumnya, aku mencintai pacarku yang sekarang lebih daripada aku mencintai pacar-pacarku yang dulu. Kadar cintanya berbeda banget. Yeah, memang begitulah cinta ideal. Ketika kita menemukan seseorang yang baru yang lebih mendekati standar ideal menurut kita, masuk akal kalau kita lebih mencintai yang lebih ideal. Masuk akal kalau yang lama bakal kita tinggalkan.
Menurutku wajar aja hal itu terjadi, dan itu bukanlah suatu wujud ketidak-setiaan. Sudah jadi kodratnya bahwa manusia itu selalu ingin mencari sesuatu yang mendekati standar kesempurnaan dalam hidupnya. Selalu mencari yang lebih dan lebih lagi. Itu wajar. Begitu juga dalam menentukan pasangan hidup. Pacaran kan pada dasarnya adalah sebuah bentuk penjajagan untuk – kalo cocok – dilanjutkan ke jenjang yang lebih sakral. Ketika ada yang lain yang lebih cocok, nggak salah kalo yang levelnya di lebih di bawah kita sisihkan.
Kejam? Memang kejam. Begitulah hidup. Begitulah cinta ideal. Di dunia ini, menurutku, antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang namanya “cinta sejati”. Semuanya cinta ideal! Kita memberikan sesuatu karena kita berharap mendapatkan sebuah balasan, kan? Kita memberikan hati kita karena mengharapkan dia juga memberikan hatinya pada kita, kan? Iya, nggak? Hayo, ngaku! Iya juga nggak pa-pa, kok. Karena memang, mencapai level cinta-tanpa-syarat itu sangat mungkin mustahil bisa kita capai.
Ketika kita terus-terusan memberi tanpa mendapatkan balasan, kita mungkin bisa bertahan 1 tahun, 2 tahun, atau bahkan 10 tahun. Tapi tidak mungkin kita bertahan seumur sisa hidup kita. Suatu saat kita pasti akan mencapai titik jenuh, merasa sia-sia dengan semua perjuangan kita. Ya, karena di dunia ini, antara laki-laki dan perempuan, menurutku, memang tidak ada cinta sejati, yang ada cuma cinta ideal. Cinta sejati cuma milik Pencipta kita.
Bull-shit dengan sinetron-sinetron di tivi kita tentang cinta sejati itu!!!
Dulu, aku merasa pacarku jaman SMA adalah yang-paling-segalanya buat aku. Tapi ketika aku ditunjukkan betapa luasnya Gadjah Mada, aku menemukan cewek lain yang lebih mendekati standar idealku, maka dengan emosi seorang mahasiswa baru, pacarku yang lama kutinggalkan. Selanjutnya pacar pertamaku di bangku kuliah ini menjadi tidak ideal lagi di mataku ketika aku tahu dia tidak sepenuh hati menjalani komitmen kami. Keadaannya menjadi lebih tidak ideal lagi ketika dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami (dia sudah menemukan cowok lain yang di matanya lebih ideal daripada aku). Tapi nggak pa-pa. Aku berterima-kasih sama dia. Karena dialah yang membuatku jadi paham kalau hidup ini kejam. Dia juga yang secara tidak langsung mendidikku sebagai seorang flirter, Casanova dari kampus MIPA, kakakaka!
Begitu terus-menerus sampai akhirnya aku dengan yang sekarang ini. Apakah suatu saat kalau aku menemukan yang lebih ideal, yang sekarang ini bakal aku tinggal? Bisa jadi. Tapi semuanya tentu butuh pertimbangan matang. Nggak bijaksana kalo cuma gara-gara naksir atau nafsu sama cewek lain lantas aku memutuskan meninggalkan dia. Hei, ideal atau tidak ideal tidak bisa disimpulkan sesimpel itu. Semuanya butuh pendalaman.
Dan, mendobel wanita adalah bukan tipikalku (sejujurnya bukan begitu. Kalo ketahuan punya pacar lagi, aku bisa-bisa diputusin, kekeke. Aku nggak mau). Temen cewekku boleh banyak, tapi pacarku ya cuma 1. Sangat riskan kalau aku memutuskan untuk meninggalkan pacarku hanya karena alasan ingin mendalami cewek lain. Gambling, Dab. Iya kalau cewek yang aku dalami nantinya memang lebih ideal… Kalo ternyata tidak, apa ndak jadi perkara namanya? Apalagi sejauh ini aku menilai pacarku yang sekarang adalah perempuan yang paling reasonable untuk kunikahi (at least, dibanding sejumlah perempuan lain yang pernah kukenal dalam hidupku).
Alasan lain kenapa aku nggak meninggalkan pacarku adalah menguji komitmenku sendiri. Konon, perasaan yang disebut “cinta” itu bakal cuma bertahan selama 4 tahun, sisanya adalah komitmen dan tanggung-jawab. Komitmen itu diuji dengan seberapa kuat kita menahan godaan. Dan level keterujian kita menghadapi godaan itu tentunya baru bisa dinilai ketika kita sudah pernah menghadapi godaan, bukan menghindari godaan.
Karena itulah sampai sekarang aku masih suka jalan berdua dengan teman-teman cewekku, sekalian menguji daya tahanku terhadap godaan mumpung masih muda. Nggak etis kalo aku mengujinya nanti-nanti justru ketika aku sudah menikah. Dan sejauh ini, mereka boleh menyenderkan kepalanya di bahuku, mereka boleh duduk di boncengan motorku, mereka boleh berjalan dengan tempo berjalan yang sama denganku di sampingku, bahkan menarik tanganku ketika berjalan juga boleh (kalo nggak mau dibilang gandengan, hohoho. Tapi yang ini jarang banget, kok. Cuma kalau situasi mendesak aja), tapi toh tidak pernah berhasil membuatku berpaling dari pacarku yang sekarang.
Yeah, sejak dahulu beginilah cinta. Deritanya tiada akhir.


Blog, Updated at: 1:43 AM

0 komentar:

Post a Comment

Berita