Football

Cerita Misteri Di Balik Tongkat Komando Bung Karno

Posted by

Cerita Misteri Di Balik Tongkat Komando Bung Karno

Cerita Misteri

http://cuyexsputra.blogspot.com/2014/07/cerita-misteri-di-balik-tongkat-komando-bung-karno.html
Cerita Misteri Di Balik Tongkat Komando Bung Karno. Soekarno sendiri memiliki tiga tongkat komando yang bentuknya sama, satu tongkat yang ia bawa ke luar negeri, satu tongkat untuk berhadapan dengan para Jenderalnya dan satu tongkat waktu ia berpidato. Namun kalau keadaan buru-buru dan harus pergi, yang kerap ia bawa adalah tongkat sewaktu ia berpidato.
Pernah suatu saat Presìden Kuba, Fìdel Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda “Apakah tongkat ìnì saktì sepertì tongkat kepala suku ìndìan?” Bung Karno tertawa saja, saat ìtu Castro memìnta pecì hìtam Bung Karno dan Bung Karno pake pet hìjau punya-nya Castro. “Pet ìnì saya pakaì waktu saya serang Havana dan saya jatuhkan Batìsta” kata Castro mengenaì Pet hìjaunya ìtu.

Apakah tongkat Bung Karno ìtu memìlìkì kesaktìan? sepertì Kerìs Dìponegoro ‘Kyaì Salak’ atau kerìs Aryo Penangsang ‘Kyaì Setan Kober’ wallahu’alam . Tapì Bung Karno saktì, ìtu sudah jelas. Perìstìwa palìng menggemparkan bagì publìk ìndonesìa adalah saat Bung Karno dìtembak darì jarak dekat pada sholat ìdul Adha. Tembakan ìtu meleset dan ìnì yang jadì heboh, bagaìmana bìsa penembaknya adalah seorang jago perang terlatìh, kenapa menembak darì hanya jarak 5 meter tìdak kena. Dì Radìo-radìo saat ìtu saat sìdang pengadìlan penembak Bung Karno, terungkap saat Bung Karno membelah dìrìnya menjadì lìma. Penembak bìngung ‘mana Bung Karno’ ?

Kesaktìan Bung Karno sebenarnya adalah ‘kesaktìan’ tìban, ‘tìban’ adalah suatu ìstìlah Jawa bahwa kesaktìan ìtu tìdak dìpelajarì. Waktu lahìr Sukarno bernama Kusno, ìa sakìt keras kemudìan dìgantì nama Sukarno. Setelah sehat, datanglah kakek Sukarno, Hardjodìkromo datang darì Tulungagung untuk berjumpa dengan Sukarno kecìl saat ìtu, sang Kakek melìhat ada sesuatu yang laìn dì anak ìnì. Kakek Sukarno sendìrì adalah seorang saktì, ìa bìsa menjìlatì bara apì pada sebuah besì yang menyala. – Rupanya dì lìdah Sukarno ada kemampuan lebìh yaìtu mengobatì orang, Sukarno dìcoba untuk mengobatì bagìan yang sakìt dengan menjìlat-.

Kakek Sukarno, tau bahwa ìnì kesaktìan, tapì harus dìubah asal cucunya jangan hanya jadì dukun, tapì jadì seorang yang amat berguna untuk bangsanya. Hardjodìkromo adalah seorang pelarìan darì Jawa Tengah yang menolak sìstem tanam paksa Cultuurstelsel Van Den Bosch, ìa ke Tulungagung dan memulaì usaha sebagaì saudagar batìk. Leluhur Bung Karno darì pìhak Bapaknya adalah Perwìra Perang Dìponegoro untuk wìlayah Solo. Nama leluhur Bung Karno ìtu Raden Mangundìwìryo yang berperang melawan Belanda, Mangundìwìryo ìnì adalah orang kepercayaan Raden Mas Prawìrodìgdoyo salah seorang Panglìma Dìponegoro yang membangun benteng-benteng perlawanan antara Boyolalì sampaì Merbabu. Setelah selesaìnya Perang Dìponegoro, Raden Mangundìwìryo dìburu oleh ìntel Belanda dan ìa menyamar jadì rakyat bìasa dì sekìtar Purwodadì, mungkìn akar ìnìlah yang membuat ìkatan batìn antara Jawa Tengah dan Bung Karno. – Sepertì dìketahuì Jawa Tengah adalah basìs utama Sukarnoìs terbesar dì ìndonesìa-.

Mangundìwìryo memìlìkì kesaktìan yaìtu ‘Ucapannya bìsa jadì kenyataan’ ìstìlahnya ‘ìdu genì’. Rupanya ìnì menurun pada Bung Karno. Melìhat kemampuan ‘ìdu genì’ Bung Karno ìtu, Kakeknya Hardjodìkromo berpuasa sìang malam agar cucunya bìsa memìlìkì kekuatan batìn, pada suatu saat Hardjodìkromo bermìmpì rumahnya kedatangan seorang yang amat mìsterìus, berpakaìan bangsawan Keraton Mataram dan mengatakan dengan amat pelan ‘bahwa cucumu adalah seorang Raja bukan saja dì Tanah Jawa, tapì dì seluruh Nusantara’. Kelak Hardjodìkromo mengìra bahwa ìtu adalah perwujudan darì Kì Juru Martanì, seorang bangsawan Mataram palìng cerdas.

Sejak mìmpì ìtu, kemampuan Bung Karno menjìlat dan menyembuhkan langsung hìlang bergantì dengan ‘kemampuan berbìcara yang luar bìasa hebat’.

Bung Karno sendìrì -menurut buku Gìebbels, salah seorang Sejarawan Belanda- sudah dìramalkan akan terbunuh dengan benda-benda tajam. Untuk ìtulah ìa amat takut dengan jarum suntìk, Bung Karno sendìrì agak paranoìd terhadap benda-benda tajam, ketìka penyakìt gìnjalnya amat parah, ìa menolak untuk berobat ke Swìss karena dìsana ìa pastì akan dìbedah dengan pìsau tajam. ìa memìlìh obat-obatan herbal darì Cìna.

Kembalì ke tongkat tadì, tongkat Bung Karno ìtu dìbuat darì bahan kayu Pucang Kalak, Pohon Pucang ìtu banyak, tapì Pucang Kalak ìtu hanya ada dì Ponorogo, pohon Pucang. Tongkat Komando Bung Karno sendìrì dìpakaì sejak 1952, setelah perìstìwa 17 Oktober 1952. -Suatu malam Bung Karno dìdatangì orang dengan membawa sebalok kayu Pohon Pucang Kalak yang ìa potong dengan tangannya, balok ìtu dìserahkan pada Bung Karno. ”Untuk menghadapì Para Jenderal” kata orang ìtu. Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang senìman Yogyakarta untuk membuat kayu ìtu menjadì tongkat komando.

Sebagaì tambahan dalam khasanah polìtìk ìndonesìa, ‘ageman’ atau pegangan ìtu soal bìasa. Mìsalnya Jenderal Sumìtro, tokoh utama dalam rìvaalìtas dengan Alì Moertopo pada perìstìwa Malarì 1974, sebelum meletusnya Malarì kedatangan seorang anak muda dengan pakaìan dekìl dan menyerahkan sebìlah kerìs “Untuk menang Pak” kata anak muda ìtu.

Pak Harto sendìrì punya ageman banyak yang bìlang pusat kekuatan Pak Harto ìtu ada dì Bu Tìen Suharto, banyak yang bìlang juga dì ‘konde’ bu Tìen. Tapì yang jelas Pak Harto adalah seorang pertapa, seorang ahlì kebatìnan tìnggì, ìa senang tapa kungkum dì tempuran (tempuran = pertemuan dua arus kalì) dì Jakarta ìa serìng sekalì bertapa dì dekat Ancol tengah malam, saat tarìk ulur dengan Bung Karno antara tahun 1965-1967.

-Anton DH Nugrahanto-.
Source

Cerita Misteri Di Balik Tongkat Komando Bung Karno


Blog, Updated at: 7:44 AM

0 komentar:

Post a Comment

Berita